Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Trending
    • Protect Beach Babies on Memorial Day
    • Jejak Jelajah Kasuari  | All About Birds
    • Spring Migration is Aways Exciting
    • New Technology Brings Bird Monitoring to the Next Level at Pine Island
    • Cat Takes His Job as Furry Sibling’s Companion Very Seriously
    • Cat Is Busy Making ‘Biscuits’ at Super High Speed
    • 10 Genius Hacks to Keep Your Cat from Turning Into a Fluffy Couch Potato
    • How to Keep Your Pup Safe, Cool & Happy by the Shore – PRIDE+GROOM
    Pettoogle
    • Home
    • Shop
    • Cats
      • Cats
      • Cats Health
      • Kitten Health & Care
    • Dogs
      • Dogs
      • Dog Training
      • Dog Grooming
      • Dog Health
      • Dog Behavior
      • Dog Nutrition & Diet
      • Dog Breeds
    • Other Pets
      • Birds
      • Pets
    Pettoogle
    Home»Birds»Jejak Jelajah Kasuari  | All About Birds
    Birds

    Jejak Jelajah Kasuari  | All About Birds

    adminBy adminMay 18, 2026No Comments27 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email


    Jauh di pedalaman jantung hutan hujan tropis, seorang fotografer satwa liar, seorang ornitolog (ahli burung) dan tiga pemandu adat setempat menyusuri wilayah sang Kasuari Gelambir Tunggal—dalam sebuah misi untuk mengabadikan sosok raksasa hutan Papua yang penuh misteri.

    Dari edisi Musim Semi 2026 majalah Residing Fowl. Click to read this story in English.

    Kokok ayam jantan saling bersahut-sahutan di udara pagi yang dingin di Lembah Malagufuk, Distrik Makbon, Provinsi Papua Barat Daya, Indonesia. Matahari masih bersembunyi di balik cakrawala, bersiap terbit dan menumpahkan cahaya pertamanya ke bentang alam yang menakjubkan tersebut. Di dalam sebuah rumah kayu sederhana, tiga pemuda masyarakat adat Moi bersiap meninggalkan kehangatan pagi, melangkah ke dalam hutan—menyatu dengan lapisan suara hutan hujan tropis yang perlahan terjaga dari tidurnya.

    Yance dan Nimbrot Kalami bersama sahabat mereka, Bastian Magablo, dengan hati-hati mengemasi tiga kamera jebak. Kamera jebak tersebut akan mereka bawa jauh ke dalam Hutan Malagufuk untuk menggantikan kamera sebelumnya yang rusak akibat hujan dan kelembapan yang tak kenal ampun. Ini adalah bulan ketiga berturut-turut mereka memasuki hutan, menapaki jalur yang sama berulang kali, memeriksa dan memasang ulang kamera di titik-titik yang telah dipilih dengan seksama.

    Bagi ketiganya, hutan terasa seperti taman bermain. Sejak kecil, mereka tumbuh bersama hutan, sebagai teman setia yang tak pernah pergi. Seperti banyak orang Papua lainnya, mereka memandang hutan sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan itu sendiri. Hutan bukan sekadar tempat untuk dijelajahi, melainkan sumber pangan, perlindungan dan cerita-cerita yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di sinilah orang berburu dan meramu, menopang kehidupan sehari-hari dari apa yang disediakan oleh hutan.

    Pemasangan kamera jebak adalah pengalaman baru bagi para pemuda Moi tersebut—sebuah pengalaman yang tumbuh seiring berkembangnya ekowisata di Pulau Nugini (Papua), yang mulai muncul di kawasan ini sekitar tahun 2014. Yance, Nimbrot dan Bastian termasuk para perintis, generasi pertama anak muda Malagufuk yang menjadi pemandu ekowisata. Desa mereka yang terletak di jantung Hutan Klasow, adalah hamparan hutan hujan tropis yang luas di kawasan Kepala Burung, Papua, Indonesia. Membentang lebih dari 130 mil persegi, wilayah ini menyimpan salah satu benteng terakhir keanekaragaman hayati besar di Bumi.

    Semenanjung Kepala Burung merupakan salah satu pusat keanekaragaman hayati di Pulau Papua—pulau dengan biodiversitas tertinggi di Bumi dan menjadi rumah bagi lebih dari 700 spesies burung.

    Burung-burung Cenderawasih adalah daya tarik utama bagi para pengamat burung yang datang ke Malagufuk dari tempat-tempat di luar Indonesia seperti Tiongkok, Eropa, hingga Amerika Serikat.

    “Biasanya mereka datang untuk burung—terutama Cenderawasih,” kata Nimbrot Kalami. “Lalu ada Ekidna, hewan aneh yang kami sebut Babi Landak. Ada juga burung-burung lain, seperti Dara-Mahkota (Mambruk) dan JulangPapua. Dan satu lagi—Kasuari. Seekor burung besar yang sangat sulit untuk dilihat.”

    Menemukan seekor Kasuari—apalagi menyaksikannya langsung di alam liar—selalu menjadi tantangan. Burung ini pemalu dan selalu waspada, bergerak nyaris tanpa suara di bawah tajuk hutan yang rapat. Namun justru karena sifatnya yang sulit dijumpai itulah, raksasa legendaris ini menjadi pengalaman impian bagi para pengunjung—langka, berwibawa dan tak terlupakan, bahkan ketika ia hanya bisa dipandang dari kejauhan.

    Para pengamat burung sering kali hanya mendengar suara panggilannya yang berat dan bergema, menggulung di antara pepohonan hutan hujan. Atau mereka menemukan jejak kaki besarnya yang bercabang tiga, tercetak jelas di lumpur—pertanda bahwa kehadiran “purba” itu begitu dekat, meski sang Kasuari tak pernah mendekat atau terlihat jelas.

    Burung besar yang tak dapat terbang ini—menjulang sekitar 1,5 hingga 1,8 meter tingginya, dengan satu gelambir khas di leher—adalah inti dari misi tiga sahabat asal Malagufuk tersebut. Tujuan mereka adalah mendokumentasikan Kasuari Gelambir Tunggal yang menjelajah hutan-hutan dataran rendah Papua. Program pemasangan kamera jebak yang mereka jalankan di Hutan Malagufuk merupakan bagian dari sebuah proyek movie dokumenter yang diprakarsai oleh Cornell Lab of Ornithology.

    Bekerja bersama fotografer satwa liar ternama Tim Laman serta Yoki Hadiprakarsa, seorang ornitolog dari Yayasan Rekam Nusantara, Yance, Nimbrot dan Bastian terlibat dalam sebuah upaya yang belum pernah dilakukan sebelumnya, yakni mengungkap kehidupan tersembunyi Kasuari Gelambir Tunggal, raksasa paling misterius di Papua.

    Hasil movie dokumenter yang diproduksi oleh Cornell Lab’s Middle for Conservation Media dan dirilis pada Desember 2025 ini, mengulas peran kasuari dalam ekosistem hutan hujan. Tujuannya adalah membantu masyarakat di Indonesia dan juga di seluruh dunia, memperoleh pemahaman yang lebih mendalam dan lebih akurat tentang Kasuari serta pentingnya burung ini bagi kesehatan hutan.

    In Search of the Northern Cassowary. Ikuti perjalanan fotografer satwa liar Tim Laman, ornitolog Indonesia Yoki Hadiprakarsa dan para pemandu hutan adat setempat saat mereka menelusuri hutan hujan dataran rendah dan menggunakan kamera jebak untuk menangkap gambar raksasa hutan Papua yang misterius. Pindai kode QR untuk menonton movie berdurasi 14 menit ini, diproduksi oleh Cornell Lab of Ornithology, Middle for Conservation Media.
    Show Transcript

    [Bird calls]

    [Yoki Hadiprakarsa narrating]: There’s a chicken few have seen within the forest of Papua, Indonesia. It exists in relative silence and lives behind indicators of its existence. This creature is secretive and likewise holds a secret. It retains the forest’s future, an unknowing architect that builds the forest with each transfer, each step. On this place, individuals and forests dwell collectively. With out this chicken, the forests as we all know them will stop to exist.

    [Bird calls]

    [Tim Laman speaking Indonesian]: It’s very straightforward to make use of and it will probably take photos at night time too.

    [Yoki Hadiprakarsa narrating]: Malagufuk, a small village within the lowland forests of West Papua sits throughout the world’s third largest rainforest, a spot of remarkable biodiversity and ecological significance. Right here, conventional information and scientific inquiry unite.

    Forest guides Bastian Maggablo, Nimrod Kalami, and Yanja Kalami are working alongside Tim Laman and myself, Yoki Hadiprakarsa, to deploy digital camera traps, non-invasive instruments that permit us observe wildlife with out disturbing it.

    [Tim Laman onscreen]: The species that we’re making an attempt to doc right here is known as the Northern Cassowary. It’s discovered alongside the northern aspect of the massive island of New Guinea.

    The cassowary is a species that’s actually necessary for the forest, nevertheless it’s not that well-known. However the populations are declining as habitat is diminished and in lots of areas it’s dealing with quite a lot of searching stress.

    [Yance Kalami speaking Indonesian]: For my part there are nonetheless many cassowaries on this space, however if you wish to see them, it’s actually laborious. They don’t dwell in a single place. At present they may very well be consuming fruit right here, however tomorrow they’ll transfer on to someplace else.

    [Yoki Hadiprakarsa narrating]: Although individuals not often see them, cassowaries play a profound ecological function. They assist construct this forest by consuming massive fruit and dispersing seeds far-off from the mother or father tree. However detecting this chicken challenges us. It strikes silently by way of dense vegetation, leaving solely footprints, droppings, and sometimes rustles within the undergrowth.

    [Tim Laman onscreen]: Chances are you’ll hear birds of paradise calling. You’ll be able to hear hornbills flying overhead and operating throughout tracks of huge cassowaries within the muddy elements of the path right here.

    Right here’s a pile of fruits. There’s a cassowary monitor proper right here. See the toe? It’s as large as my hand.

    [Cassowary calling]

    [Yoki Hadiprakarsa onscreen]: Wow.

    [Tim Laman onscreen]: So, he’s not too far-off. Possibly only a couple hundred meters.

    [Yoki Hadiprakarsa onscreen]: Yeah.

    [Tim Laman voiceover]: We’ve been exploring the forest, discovering areas the place we see indicators of cassowaries, issues like a fruiting tree, animal trails, clay licks, and we’ve been inserting out these cameras now for the previous week or so. They’re very large, however they’re very laborious to see within the forest. They’re very elusive they usually’re not so predictable.

    [Bird calls and music building]

    [Voices offscreen]: Wow. Oh, big.

    [Tim Laman]: So, now we’re within the Papua, the third largest rainforest on this planet.

    [Yoki Hadiprakarsa onscreen]: Unbelievable. The fig timber when it’s fruiting is sort of a grocery store within the rainforest.

    [Tim Laman onscreen]: Yeah.

    [Yoki Hadiprakarsa speaking in Indonesian]: Very large! I haven’t seen something this large in a very long time.

    [Yoki Hadiprakarsa speaking in English]: Even their pandan tree can also be gigantic.

    [Tim Laman]: It’s superb to be in a forest the place all these large timber are nonetheless right here, proper? They haven’t been lower down. All intertwined with the chicken life.

    [Yoki Hadiprakarsa onscreen]: It’s a superb instance that Papuan forest is not only for the Papuan, not only for the Indonesian, but additionally for the world as a result of the roles to absorbing the carbon and you realize sustaining the local weather, proper?

    [Tim Laman]: Yeah. They are saying this is among the ironwood timber, actually sluggish rising tree. So it may very well be a whole lot of years outdated.

    [Yoki Hadiprakarsa]: Oh man.

    [Music]

    [Tim Laman]: This may very well be an fascinating place to place a digital camera. We obtained a pleasant view of the forest with the massive tree behind there. And we’ve obtained a path coming alongside the river financial institution right here near the river. And we predict that uh that is place that be utilized by cassowaries as they transfer by way of this space.

    [Yoki Hadiprakarsa]: Yeah, I feel that’s good. This chicken is among the heaviest birds dwelling on this planet.

    [Tim Laman]: Yeah. How a lot do they weigh?

    [Yoki Hadiprakarsa onscreen]: Uh I’m now 70. Sure. About my weight.

    [Tim Laman onscreen]: About your weight? Like 60, 70 kilo.

    [Yoki Hadiprakarsa]: 60, 70 kilos.

    [Tim Laman]: Wow. After which how tall?

    [Yoki Hadiprakarsa onscreen]: How tall you might be?

    [Tim Laman onscreen]: I’m about 190 cm.

    [Yoki Hadiprakarsa]: Yeah. And 170 might be about

    [Tim Laman onscreen]: So proper about about our peak—between us.

    [Yoki Hadiprakarsa]: Sure. Between us. Between us. It’s an enormous big chicken.

    [Tim Laman]: That’s an enormous chicken. Yeah.

    [Tim Laman]: In order that’s the largest animal within the New Guinea rainforest, proper? There’s no large mammals right here. There’s no large mammals in any respect.

    [Yoki Hadiprakarsa]: Yeah. Yeah.

    [Tim Laman]: So the chicken is the largest animal.

    [Yoki Hadiprakarsa]: Yeah. In Papua. Although it’s big chicken, it’s troublesome to see, proper? It’s so elusive.

    [Tim Laman]: Yeah.

    [Yoki Hadiprakarsa]: The cassowary has a brief digestive system. So it means when swallowing this big_the seeds will come out harmlessly.

    [Tim Laman]: Yeah.

    [Yoki Hadiprakarsa]: In order that’s why you realize additionally they efficient dispersing the seeds.

    [Tim Laman]: Yeah. And possibly no different chicken that may disperse this seed.

    [Yoki Hadiprakarsa]: Oh yeah. It’s large for positive.

    [Tim Laman]: However proper beneath the tree. I imply the seed might germinate right here however then it’s simply competing with the mom tree. Proper.

    [Yoki Hadiprakarsa]: Mom tree, sure.

    [Tim Laman]: So it’s an enormous profit to the species to the tree if the seeds are unfold…

    [Yoki Hadiprakarsa]: …far-off from the mom tree by a…

    [Tim Laman]: …by a cassowary.

    [Yoki Hadiprakarsa onscreen]: It is a big pile of cassowary poops. It is a good instance of the ecological roles of the cassowary. Whereas within the sky we’ve got hornbills who’re additionally dispersing the seed. And on the bottom in Papua we’ve got one of many largest dwelling birds.

    [Music and bird calls]

    [Speaking Indonesian]

    [Music]

    [Music and bird calls]

    [Speaking Indonesian]

    [Music and bird calls]

    [Tim Laman onscreen]: The digital camera’s fogged once more?

    [Yoki Hadiprakarsa onscreen]: Yeah.

    [Tim Laman onscreen]: Oh my goodness.

    [Yoki Hadiprakarsa narrating]: Slowly, these forest secrets and techniques start to be revealed. The digital camera captures many surprises. Each providing a glimpse into the wealthy biodiversity that hides among the many timber. We expertise moments of success, however the cassowary keep simply out of attain. Tantalizingly shut, but by no means absolutely seen.

    [Tim Laman onscreen]: Oh, we obtained part of a cassowary. Come on, flip round. Come again. We obtained a cassowary butt.

    [Yoki Hadiprakarsa narrating]: Filming cassowaries takes greater than know-how. It requires persistence, precision, native information and a deep respect for the forest rhythms. For months we wait, watch, marvel. Then as if answering us,

    [Music]

    [People exclaiming in Indonesian and English]

    [Tim Laman onscreen] That’s superb.

    [Speaking Indonesian]: It labored! It’s a great spot, sure?. Yeah, he’s there! Extraordinary.

    [Music]

    [Tim Laman]: We all know from scientific analysis that the cassowaries have a singular parental care system the place the male takes care of the chick, not the feminine. The feminine lays the egg, however then the male incubates the egg after which takes care of the chick. We have been in a position to seize a number of totally different aged chicks from a very small one as much as a juvenile, however nonetheless with the daddy.

    We even caught a second the place the daddy appears to be displaying the chick what it will probably eat.

    [Music and bird calls]

    [Tim Laman voiceover]: Right here’s the monitor of a male casawary adopted by his chick.

    [Yoki Hadiprakarsa narrating]: In following the Northern Cassowary, we’ve come to know extra than simply the chicken. We’ve seen how life strikes by way of this forest. Carried in beaks and bellies, scattered in silence, and nurtured by time.

    [Yoki Hadiprakarsa onscreen]: You need to attempt it, Tim? It’s good.

    [Tim Laman]: Yeah?

    [Yoki Hadiprakarsa]: Yeah.

    [Tim Laman]: You positive it’s not one which already went by way of a cassowary? [Yoki Hadiprakarsa laughing] I feel that is nonetheless recent. It has a candy and a superb acidity.

    [Tim Laman]: Yeah. Positively within the mango household, proper?

    [Yoki Hadiprakarsa]: It’s mango household for positive. Yeah. Good.

    [Tim Laman onscreen]: The cassowaries, they don’t actually appear to benefit from the taste of their fruits. They similar to straight down.

    [Yoki Hadiprakarsa onscreen]: Yeah. After which on the digestive shall be principally simply squeeze the juice out of it after which simply launch it.

    [Tim Laman]: Yeah.

    [Yoki Hadiprakarsa]: As a result of what we noticed continues to be intact every little thing, proper? Even the flesh continues to be there.

    [Tim Laman]: Yep.

    [Yoki Hadiprakarsa narrating]: Cassowaries maintain the forest, however so do the individuals of Malagufuk who name this forest dwelling. They function the guardians of this forest, defending each cassowary and cover with quiet dedication. Their futures are certain collectively. Think about this forest with out their unseen stewards, with out cassowaries to hold seeds throughout the land. The forest as we all know it is going to be unable to resume itself. However with every fruit swallowed, with every seed scattered, the way forward for the forest is sustained. That is the cassowary’s timeless function. One that can safeguard Papua’s forest for generations but to return.

    [Music]

    [Yance Kalami speaking Indonesian]: My hope is for this forest to be identified to the world. My hope, for all of us, the households of Malagufuk, and for our youngsters, and the following era—is that hopefully, the forests shall be protected endlessly. That’s all.

    [Music and bird calls]

    [Bird calls]

    [Loud cassowary call]

    [Cassowary call with other bird calls]

    Finish of Transcript

    Memadukan Teknologi dan Pengetahuan Tradisional 

    “Kasuari itu bertubuh sangat besar, tetapi luar biasa sulit untuk dilihat,” ujar Tim Laman, yang selama dua dekade terakhir telah melakukan puluhan perjalanan ke Papua untuk memotret dan merekam satwa hutan hujan—dari burung-burung cenderawasih hingga rangkong dan kini, untuk pertama kalinya, Kasuari Gelambir Tunggal.

    Karena Kasuari begitu sulit dijumpai di alam liar, pengetahuan ilmiah tentang burung ini masih sangat terbatas. Inilah yang membuat proyek ini menjadi sangat penting—bukan hanya untuk memahami Kasuari itu sendiri, tetapi juga untuk membantu masyarakat mengenali perannya dalam menjaga kesehatan hutan.

    Cenderawasih Dua Belas Kawat.
    Mambruk/ Dara Mahkota Biru.
    Cenderawasih Kuning Kecil.
    Cenderawasih Belah Rotan.
    Cenderawasih Raja.
    Julang Papua.
    Ekidna.

    Menurut Tim Laman, awal mula proyek kamera jebak ini berangkat dari sebuah kebetulan yang menyenangkan. Pada tahun 2023, ia pertama kali datang ke Desa Malagufuk untuk memotret burung Cenderawasih. “Lalu saya tahu bahwa di sini juga ada Kasuari,” kenangnya. “Kami melihat jejak-jejaknya… dan saat itu saya menyadari sesuatu yang penting. Kasuari adalah simbol Provinsi Papua Barat. Ia ada di bendera, di lambang provinsi—tetapi kebanyakan orang sebenarnya tidak benar-benar mengenalnya.”

    “Kasuari itu sulit ditebak dan sulit dilacak,” terang Tim Laman mengenai tantangan merekam burung ini. “Dengan Rangkong, kita bisa menemukan pohon yang sedang berbuah dan melihat mereka datang setiap hari. Kasuari berbeda, mereka menjelajah wilayah yang sangat luas. Melihatnya secara langsung saja sudah sulit, apalagi merekamnya. Karena itu, kamera jebak menjadi solusi. Kami bekerja dengan para pemandu lokal dari Malagufuk yang mengenal hutan ini secara mendalam. Merekalah yang membantu kami mengidentifikasi pohon-pohon berbuah yang kemungkinan akan dikunjungi Kasuari.”

    Sebagai pemburu ulung dan pelacak hutan yang terampil, Yance, Nimbrot dan Bastian mengetahui dengan tepat di mana tanda-tanda kemungkinan Kasuari akan muncul. Mereka mengenali jalur-jalur favorit dan lokasi makan burung itu, meskipun sang raksasa bergerak laksana bayangan di balik semak-semak rapat. Dengan membaca jejak kaki dan kotorannya, mereka memberi arahan kepada Tim Laman dan Yoki—tentang titik-titik terbaik untuk menempatkan kamera.

    Para pemandu Moi menggunakan jejak kaki dan kotoran untuk mengidentifikasi lokasi penempatan kamera jebak, yang kemudian merekam gambar Kasuari Gelambir Tunggal saat mencari makan maupun induk Kasuari bersama anaknya. Kasuari melewatkan biji-biji besar melalui saluran pencernaannya, sehingga anakan pohon kerap tumbuh dari kotoran yang mereka tinggalkan.

    “Mereka bisa membedakan apakah jejak Kasuari itu masih baru atau sudah lama. Kadang mereka berkata, ‘Jejak ini baru beberapa jam,’” ujar Yoki. “Itu luar biasa. Saya pernah bertanya apakah ada tempat di mana semua satwa datang untuk minum, semacam sumber mineral alami. Mereka langsung memberi tahu satu lokasi yang mereka kenal—tempat mamalia dan burung sama-sama berkumpul. Lokasi itu kemudian menjadi salah satu titik kunci kami untuk merekam gambar Kasuari.”

    Tim Laman dan Yoki menempatkan kamera jebak tepat di lokasi yang disarankan oleh ketiga pemandu tersebut. Hasilnya membenarkan naluri mereka. Pada awalnya, kamera-kamera itu hanya merekam sepotong kaki atau setengah tubuh burung raksasa tersebut. Penyesuaian pun dilakukan—jarak kamera, ketinggian dari lantai hutan, hingga sudut pengambilan gambar, semuanya disempurnakan. 

     Secara keseluruhan, 18 kamera dipasang selama delapan bulan di 14 lokasi berbeda. Empat kamera gagal berfungsi akibat kelembapan yang terus-menerus, hujan lebat dan kondisi hutan yang ekstrem, sehingga harus diganti. Namun pada akhirnya, ketekunan mereka terbayar dengan gambar-gambar luar biasa yang memperlihatkan kasuari bergerak di dalam hutan. 

     “Saya sangat senang bisa membantu,” kata Yance. “Akhirnya saya bisa melihat kasuari dengan jelas melalui kamera yang kami pasang.” Bagi Yance dan kawan-kawan, pengalaman ini bukan semata soal penghasilan—melainkan tentang belajar. “Sebelumnya kami tidak tahu bahwa yang membesarkan anak-anak Kasuari justru pejantan,” ujar Yance. “Kami kira, seperti kebanyakan hewan, induk betinanya yang merawat. Ternyata Kasuari berbeda.” 

    “Kami sejak dulu tahu di mana harus mencari Kasuari. Kami mengenali jejak dan suaranya,” kata Nimbrot menambahkan. “Tetapi melalui proyek ini, kami belajar sesuatu yang baru bahwa Kelm Bell,” (sebutan masyarakat setempat untuk Kasuari Gelambir Tunggal), “sangat penting bagi hutan kami. Sekarang kami mengerti mengapa orang menyebut Kasuari sebagai petani hutan.”

    Hutan hujan Papua berutang besar pada Kasuari Gelambir Tunggal. Burung pemakan buah berukuran raksasa ini kerap disebut sebagai “petani hutan”, karena perannya yang krusial dalam menyebarkan biji-biji dari begitu banyak spesies pohon penting.

    Hutan yang Dibangun oleh Burung 

    Ketiga spesies Kasuari yang ada di dunia, yakni Kasuari Gelambir Tunggal atau yang disebut sebagai Kasuari Utara, Kasuari Gelambir Ganda atau Kasuari Selatan dan Kasuari Kerdil (yang memiliki tinggi sekitar satu meter, hanya setengah ukuran dua spesies lainnya)—dapat ditemukan di Pulau Papua. Namun, Kasuari Gelambir Ganda juga menyebar hingga Australia bagian Utara dan Kepulauan Maluku, sementara Kasuari Kerdil terdapat di Kepulauan Solomon. Kasuari Gelambir Tunggal, sebaliknya, hanya hidup di pulau Papua. 

     “Ada orang-orang yang mengatakan Kasuari itu berbahaya. Kakek saya pun dulu berkata begitu,” ujar Yance. “Mereka besar, bisa menendang dan cakar mereka tajam seperti pisau. Mungkin itu benar. Tapi bagi kami, ketika bertemu mereka di hutan, justru merekalah yang takut. Saat melihat kami, biasanya mereka langsung lari.” 

     Di balik reputasinya sebagai burung berbahaya, tersembunyi kebenaran yang lebih mendalam: Kasuari adalah spesies kunci, yang sangat penting bagi kesehatan dan regenerasi hutan hujan tropis. Tanpa mereka, banyak hutan di Papua perlahan akan kehilangan daya hidupnya. 

     “Kasuari sering disebut sebagai petani hutan atau tukang kebun hutan,” ujar Yoki. “Mereka membawa biji-bijian jauh ke dalam hutan dan menyebarkannya melalui kotoran yang kaya nutrisi.” 

    Kasuari merupakan pemakan buah terbesar di hutan dataran rendah Papua. Tubuhnya yang kuat dan paruhnya yang kokoh memungkinkan burung ini menelan buah-buah besar secara utuh, termasuk buah dari pohon Terminalia—raksasa tropis yang dapat menjulang lebih dari 30 meter dan menjadi pilar kayu keras dalam arsitektur hutan hujan yang kompleks. Para peneliti telah menemukan biji dari lima spesies pohon Terminalia di dalam kotoran Kasuari.

    Sebagai pemakan buah, Kasuari memainkan peran ekologis yang sangat krusial, karena dalam banyak hal, hutan Papua dibangun oleh burung. Sekitar 90 persen spesies pohon tropis di Papua bergantung, setidaknya sebagian, pada hewan seperti Kasuari untuk menyebarkan bijinya. Tanpa Kasuari, banyak pohon akan gagal beregenerasi secara alami—terutama di wilayah hutan yang terganggu atau terdeforestasi. Kasuari membantu menjaga siklus kehidupan hutan, memastikan bahwa pohon-pohon muda tumbuh untuk menggantikan yang tua. 

     Peran ini menjadi semakin penting karena hutan Papua tidak memiliki mamalia pemakan buah berukuran besar seperti yang ditemukan di Hutan Amazon atau Kongo—misalnya monyet dan kera besar—satwa yang mampu menyebarkan biji berukuran besar ke jarak yang jauh. Di Papua, peran penyebar biji berukuran besar itu dijalankan oleh Kasuari. 

    Karena Kasuari menjaga sekaligus menciptakan generasi baru hutan hujan, burung ini ikut melindungi salah satu gudang keanekaragaman hayati terkaya di dunia. PulauPapua—yang terbagi antara Indonesia dan Papua Nugini—menyimpan hutan hujan tropis terbesar ketiga di dunia, setelah Amazon dan Kongo. Sekitar 70 persen daratan Pulau Papua masih tertutup hutan hujan, yang menampung sekitar 14.000 spesies tumbuhan—sekitar 60 hingga 70 persennya tidak ditemukan di tempat lain di Bumi. 

    Lebih dari 700 spesies burung hidup di sini, termasuk 38 spesies burung Cenderawasih, bersama ratusan jenis reptil, amfibi, serangga dan mamalia seperti Kanguru Pohon. Hampir 7 persen keanekaragaman hayati daratan dunia terkonsentrasi di wilayah ini—sebuah kawasan yang luasnya bahkan kurang dari 0,5 persen permukaan daratan planet kita.

    Setiap spesies di hutan hujan Papua—dari pepohonan yang menjulang tinggi hingga burung-burung berwarna mencolok—memainkan peran unik dalam menjaga jalinan ekologi ini tetap utuh. Di antara burung-burung, Kasuari, Cenderawasih, dan Julang atau Rangkong, menonjol sebagai aktor penting dalam ekosistem hutan Papua.

    “Burung memainkan peran krusial dalam ekosistem—sebagai penyerbuk, pengendali hama dan indikator kesehatan lingkungan. Namun di Papua, Kasuari secara harfiah membangun hutan,” ujar ilmuwan Cornell Lab, Edwin Scholes, yang telah melakukan penelitian di Papua selama lebih dari 25 tahun dan merupakan salah satu pendiri Birds-of-Paradise Undertaking. “Kasuari adalah satu-satunya hewan yang cukup besar untuk menelan dan menyebarkan biji-biji besar pohon hutan hujan. Dengan sistem pencernaan yang pendek, biji-biji itu melewati tubuhnya tanpa rusak dan dapat dibawa hingga sejauh 30 kilometer dari pohon induknya.”

    Moi guides
    Organising a digital camera lure.
    Bastian Magablo and Nimbrot Kalami.
    Moi guides calibrate the digital camera lure.
    Tim Laman and team review the footage
    Reviewing the footage.
    Atas: Ornitolog Indonesia Yoki Hadiprakarsa bersama pemandu Moi, Yance Kalami (tengah) dan Nimbrot Kalami (kanan), memasang sebuah kamera dengan harapan dapat merekam gambar kasuari yang melintas. Kanan Atas: Pemandu Moi, Bastian Magablo dan Nimbrot Kalami, melakukan kalibrasi kamera jebak. Kanan Bawah: Fotografer satwa liar Tim Laman bersama tim meninjau rekaman kamera. Secara keseluruhan, tim menyembunyikan 18 kamera jebak dalam upaya pembuatan movie yang berlangsung selama delapan bulan.

    “Tanpa Kasuari yang menjalankan fungsi tak tergantikan ini, banyak spesies pohon tidak akan mampu beregenerasi dan hutan seperti yang kita kenal tak akan dapat memperbarui dirinya,” lanjut Edwin Scholes. “Mereka benar-benar arsitek hutan hujan.”

    Meski Kasuari tak tertandingi dalam menyebarkan biji berukuran besar, mereka bukan satu-satunya tukang kebun hutan. Ekosistem Papua dibentuk oleh komunitas penyebar biji yang beragam, masing-masing dengan peran yang berbeda. Rangkong, dengan paruh panjang dan kemampuan terbang jarak jauh, menyebarkan buah berukuran sedang ke wilayah yang luas—sering kali menghubungkan fragmen-fragmen hutan yang terpisah akibat aktivitas manusia.

    Cenderawasih memakan buah-buahan kecil, menyebarkan biji secara lokal di sekitar pohon-pohon tempat pejantan menampilkan tarian kawin mereka yang rumit. Burung pemakan buah berukuran kecil, seperti Merpati, juga membantu menanam hutan dengan menyebarkan jutaan biji kecil yang membentuk lapisan bawah hutan yang rapat—pelindung penting bagi pohon-pohon muda. Bahkan Kelelawar pemakan buah, meski bukan burung, sama pentingnya sebagai mamalia nokturnal yang menyebarkan biji dan serbuk sari bagi tumbuhan yang mekar di malam hari.

    Bersama-sama, jejaring penyebar biji ini menjaga keberagaman hutan hujan. Dalam prosesnya, Kasuari serta burung-burung dan Kelelawar lainnya memberikan jasa penting bagi seluruh dunia, papar Edwin Scholes. Sebagai bagian dari sistem hutan hujan tropis terbesar ketiga di dunia, hutan Papua menyimpan sekitar 15 miliar ton karbon di pepohonan dan tanah, serta secara aktif menyerap lebih dari 50 juta ton karbon dioksida dari atmosfer setiap tahunnya.

    “Hutan-hutan ini termasuk solusi alami paling kuat yang masih kita miliki untuk membatasi kenaikan suhu international,” jelas Edwin Scholes. “Hutan Papua juga menjadi rumah bagi sedikitnya 5 persen spesies tumbuhan dan satwa di dunia, menjadikannya sebuah pusat keanekaragaman hayati yang tak tergantikan. Apa yang terjadi di hutan Papua akan memengaruhi stabilitas iklim dan keanekaragaman hayati di seluruh planet.” 

     Sejumlah pegiat konservasi di Indonesia telah mengusulkan sebuah Skema Kredit Kasuari sebagai cara untuk menghimpun dana guna melindungi hutan hujan ini. “Jika kita ingin mempertahankan Kasuari dan hutan yang mereka bangun, kita membutuhkan lebih dari sekadar niat baik—kita memerlukan mekanisme yang memberi penghargaan nyata bagi upaya konservasi,” ujar Yoki, ornitolog yang telah bekerja lebih dari 20 tahun di hutan Indonesia. “Skema Kredit Kasuari bisa menjadi salah satu jalan ke depan, dengan mengaitkan kredit keanekaragaman hayati dan karbon pada manfaat nyata bagi masyarakat lokal.” 

    Mannequin serupa saat ini tengah diuji coba di Australia, di kawasan Moist Tropics, Queensland, di mana para pemilik lahan—termasuk komunitas adat—menerima insentif finansial untuk melestarikan dan memulihkan habitat, dengan verifikasi melalui pemantauan ilmiah dan kredit kualitas hutan. Pemerintah, korporasi dan lembaga filantropi dapat membeli kredit ini untuk mendukung konservasi. 

    Menurut Yoki, pendekatan serupa dapat diadaptasi di Papua—melindungi Kasuari, memulihkan hutan yang terdegradasi, sekaligus menciptakan sumber penghidupan yang berkelanjutan bagi komunitas adat setempat. 

    Perpaduan antara kebijakan dan pendekatan ekonomi akan dibutuhkan untuk menopang perjuangan masyarakat adat Papua dalam menjaga hutan yang menjadi rumah mereka—sebuah oasis di dunia yang kian menghangat. Tanpa pengelolaan berbasis komunitas, tutur Yoki, hilangnya hutan-hutan yang dibangun oleh burung—terutama yang dibentuk oleh Kasuari—hanyalah soal waktu. 

    “Ancaman terbesar bagi hutan Papua saat ini adalah alih fungsi lahan untuk tanaman industri,” ujarnya. “Ini merupakan bahaya serius bagi Lembah Klasow dan bagi seluruh Papua.”, tegasnya. 

    “Kelapa sawit adalah ancaman terbesar bagi kami, orang Moi,” tambah Yance Kalami. “Kami belajar dari pengalaman. Kami tidak ingin hutan ini—rumah kami dan rumah Kasuari—menghilang karena alam dihancurkan.”

    Kasuari Gelambir Tunggal sering disebut sebagai “petani hutan”, karena berperan menyebarkan biji-biji dari spesies pohon penting di hutan hujan Papua.

    Warisan Leluhur Bernama Egek 

    Setelah delapan bulan mengejar kasuari dengan bantuan kamera, tiga sahabat muda dari Suku Moi itu sampai pada satu kesadaran yang jernih—melindungi Kasuari berarti melindungi hutan dan melindungi tanah yang mendefinisikan jati diri mereka. 

     “Kami belajar begitu banyak dari pemasangan kamera dan dari bekerja bersama Tim dan Yoki,” ujar Yance Kalami. “Sekarang kami benar-benar memahami betapa pentingnya Kasuari bagi hutan kami, terutama bagi kami sebagai orang Papua.” Ia bercerita bahwa di masa lalu, Kasuari kadang-kadang diburu—bukan sebagai sasaran utama, melainkan ketika burung itu tak sengaja terperangkap dalam jerat hutan. Kini, hal itu telah berubah. Saat ini, masyarakat tidak lagi berburu di hutan kecuali babi hutan dan rusa, yang bukan spesies asli. Kasuari, bersama burung dan mamalia endemik Papua lainnya, tidak lagi dianggap sebagai hewan buruan. 

     Bagi orang Moi, melindungi hutan berarti melindungi kehidupan itu sendiri. “Hutan adalah segalanya bagi kami,” jelas Yance. “Kami hidup di hutan. Semua makanan kami berasal dari sana. Hutan itu seperti seorang ibu—karena ia memberi kami makanan, tumbuhan, obat-obatan, segalanya. Hutan memiliki air dan memenuhi semua kebutuhan rumah kami.” 

     Untuk melindungi “sang ibu”, Kampung Malagufuk membuat komitmen kolektif yang mendalam untuk menjaga hutannya. Amos Kalami, kepala kampung, mengatakan bahwa komunitasnya dengan tegas melindungi apa yang ia sebut sebagai harta terbesar mereka: hutan adat. 

    “Kami bersyukur karena leluhur kami telah menjaga hutan ini untuk kami,” ujar Amos Kalami. “Mereka melarang penebangan pohon secara sembarangan. Kayu besi tidak boleh ditebang sama sekali—hanya pohon yang sudah tumbang yang boleh dimanfaatkan untuk kebutuhan kampung. Itulah sebabnya hutan Malagufuk masih utuh hingga hari ini. Kami tidak ingin merusak apa yang telah dipercayakan leluhur kepada kami.” 

     Malagufuk menerapkan sanksi tegas bagi penebangan liar atau perburuan satwa selain babi dan rusa. “Siapa pun yang melanggar aturan kampung—berburu Cenderawasih, Kasuari, atau satwa seperti Ekidna—akan dikenai denda sebesar 50 juta rupiah,” jelas Amos. 

    Namun, meski perlindungan lokal ini kuat, Amos Kalami menegaskan bahwa ancaman kehilangan hutan di seluruh Lembah Klasow dan Papua masih sangat nyata. “Pada tahun 2014, tiba-tiba ada survei besar-besaran untuk kelapa sawit,” kenangnya. “Kami tidak diberi tahu sebelumnya. Karena kami sudah berkomitmen menjaga hutan ini, kami menolaknya. Peristiwa itulah yang justru mendorong kami untuk mempertahankan hutan ini dengan lebih kuat lagi.”

    Bahaya yang ditimbulkan oleh kelapa sawit bukanlah hal baru. Agus Kalalu, seorang aktivis muda dari komunitas adat Mala Moi, dan tinggal di desa yang terletak tepat di sebelah Malagufuk, di jantung Hutan Klasow, mengatakan bahwa orang Moi telah lama menolak perluasan perkebunan. Selama lebih dari dua dekade, Agus Kalalu berkeliling tanah adat Moi, menggunakan film-film pendek untuk meningkatkan kesadaran dan mendorong desa-desa memilih ekowisata sebagai alternatif kelapa sawit. 

    “Kelapa sawit pertama kali masuk sekitar tahun 2000,” terang Agus. “Perkebunan dibuka di distrik Segun, Klamono, dan Moisegen. Perusahaan membuat banyak janji, tetapi setelah mereka beroperasi, tidak ada manfaat nyata.” 

    Alih-alih kesejahteraan, masyarakat justru menyaksikan kehancuran hutan mereka. Sumber air menjadi langka, pangan semakin sulit diperoleh, dan lapangan kerja yang dijanjikan tak pernah terwujud. “Kami belajar dari kerusakan itu,” ujar Agus. “Karena itulah sekarang, kami semua di Mala Moi—tanah leluhur orang Moi—menolak kelapa sawit.” 

    Kasuari Gelambir Tunggal oleh Daniel López‑Velasco | Ornis Birding Expeditions / Macaulay Library

    Tahun 2021 menjadi titik balik. Pemerintah provinsi berkomitmen melindungi sisa hutan di Papua Barat dengan mencabut sejumlah izin kelapa sawit. Hingga kini, baik Provinsi Papua Barat maupun provinsi baru Papua Barat Daya terus mempertahankan komitmen tersebut terhadap perlindungan hutan.

    Bagi Agus, Malagufuk menjadi contoh yang sangat kuat. 

    “Saya orang Moi dan tinggal di Klaili. Kami juga menjaga hutan kami,” katanya. “Tetapi saya benar-benar mengagumi Malagufuk, kampung tetangga kami di utara. Hingga hari ini, hutan mereka tetap tak tersentuh. Tidak satu pun pohon tumbang oleh tangan manusia. Itulah yang paling saya hormati.” 

    Namun, meskipun ancaman kelapa sawit mereda, bahaya itu belum sepenuhnya hilang. Izin perkebunan yang dikeluarkan di tingkat nasional masih menjadi kekhawatiran. Agus dan para pemuda Moi lainnya memilih untuk tidak diam. Mereka berpindah dari kampung ke kampung di seluruh tanah Moi, berbagi kisah tentang dampak buruk perkebunan monokultur—sekaligus menawarkan alternatif, seperti ekowisata, sebagai sumber penghidupan berkelanjutan bagi masyarakat Papua. 

    Extra Images by Tim Laman

    Menurut Amos Kalami, kepala kampung Malagufuk, menjaga hutan telah memberikan manfaat nyata bagi warganya. “Ekowisata membuktikannya,” ujarnya. “Kami melindungi hutan, kami melindungi Kasuari, kami melindungi burung-burung kami dan kami memperoleh penghasilan. Wisatawan datang, memotret burung-burung kami, pohon-pohon kayu besi dan kampung kami. Mereka mengambil gambar, dan mereka meninggalkan uang.” 

    Amos menegaskan bahwa orang Moi memiliki kewajiban untuk menegakkan hukum adat yang diwariskan dari generasi ke generasi demi menjaga kesehatan hutan. “Leluhur kami mengajarkan kami untuk melindungi alam, karena dari sanalah kami hidup,” katanya.  

    “Lindungi hutan, lindungi pohon, lindungi burung. Orang Moi memiliki komitmen yang disebut Egek. Ini adalah larangan adat—diakui oleh tradisi dan juga oleh gereja.” “Space-area tertentu tidak boleh dimanfaatkan karena di sana terdapat tempat keramat, mata air, dan pohon-pohon raksasa,” lanjutnya. “Egek juga berlaku di Hutan Malagufuk ini.” 

    Menurut Yance, yang kini berubah dari pemburu menjadi penjaga kamera jebak di Malagufuk, komitmen terhadap Egek terwujud nyata dalam sosok Kasuari Gelambir Tunggal. 

    “Semakin saya belajar betapa pentingnya Kasuari, semakin besar motivasi saya untuk melindungi hutan kami—rumah kami,” katanya. “Ketika saya mengajak anak saya, Deborah, masuk ke hutan, saya teringat bagaimana Kasuari jantan membesarkan anak-anaknya. Saya ingin Kasuari tetap hidup agar hutan ini tetap utuh—bukan hanya untuk anak-anak saya, tetapi agar seluruh dunia dapat merasakan manfaat dari hutan Papua.”

    Tentang Penulis 

    Wahyu Mulyono adalah jurnalis, pembuat movie documenter dan pendiri Yayasan Rekam Nusantara, sebuah lembaga yang berfokus pada penuturan kisah-kisah berdampak tentang alam, budaya, dan konservasi di Indonesia. Selama lebih dari dua dekade, ia telah menulis dan memproduksi liputan untuk Mongabay, Kompas TV–Indonesia, Nationwide Geographic Indonesia, serta Tempo—salah satu majalah berita mingguan dengan oplah terbesar di Indonesia.



    Source link

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Previous ArticleSpring Migration is Aways Exciting
    Next Article Protect Beach Babies on Memorial Day
    admin
    • Website

    Related Posts

    Protect Beach Babies on Memorial Day

    May 18, 2026

    Spring Migration is Aways Exciting

    May 18, 2026

    New Technology Brings Bird Monitoring to the Next Level at Pine Island

    May 18, 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Protect Beach Babies on Memorial Day

    May 18, 2026

    Jejak Jelajah Kasuari  | All About Birds

    May 18, 2026

    Spring Migration is Aways Exciting

    May 18, 2026

    New Technology Brings Bird Monitoring to the Next Level at Pine Island

    May 18, 2026

    Cat Takes His Job as Furry Sibling’s Companion Very Seriously

    May 18, 2026

    Cat Is Busy Making ‘Biscuits’ at Super High Speed

    May 18, 2026

    10 Genius Hacks to Keep Your Cat from Turning Into a Fluffy Couch Potato

    May 18, 2026

    How to Keep Your Pup Safe, Cool & Happy by the Shore – PRIDE+GROOM

    May 18, 2026
    About us

    Welcome to PetToogle.com – Your Ultimate Source for Purr-fectly Paw-some Pet Care!

    At PetToogle.com, we believe in the magic of the human-animal bond and the joy that our furry, feathered, and four-legged companions bring to our lives. As passionate pet enthusiasts, we've created this platform to share our wealth of knowledge and insights on a wide range of topics dedicated to the well-being of your beloved pets, with a particular focus on our feline friends.

    Thank you for being part of our pet-loving community. Together, let's make every moment with our pets a happy and healthy one!

    PetToogle.com - Nurturing the Bond Between Pets and People.

    Popular Posts

    Protect Beach Babies on Memorial Day

    May 18, 2026

    Training a Siberian Husky DogTips and Techniques for a Happy and Well

    December 12, 2023

    3 Fun Outdoor Activities for Your Pet Throughout

    December 12, 2023

    Building a Strong Bond with Your Pet: Communication, Trust, and Quality Time

    December 12, 2023

    Cats Lost in Connecticut House Fire Found Alive

    December 12, 2023
    Categories
    • Birds
    • Cats
    • Cats Health
    • Dog Behavior
    • Dog Breeds
    • Dog Grooming
    • Dog Health
    • Dog Nutrition & Diet
    • Dog Training
    • Dogs
    • Kitten Health & Care
    • Pets
    Copyright © 2024 Pettoogle.com All Rights Reserved.
    • Privacy Policy
    • Disclaimer
    • Terms & Conditions
    • About us
    • Contact us

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.